MUTIARA AL-QUR’AN (Bagian XIX / sembilan belas)
ASBAABUN NUZUL . SEBAB-SEBAB TURUNNYA AL-QUR’AN
ASBAABUN NUZUL . SEBAB-SEBAB TURUNNYA AL-QUR’AN
I.C. DISEBABKAN ADANYA CITA-CITA DAN KEINGINAN TERJADINYA SUATU PERISTIWA
Pertama karena keinginan dan cita-cita nabi.
Pada waktu pertama kali diperintahkan shalat, Nabi dan para sahabat menjadikan masjidil Aqsha sebagai kiblat dalam melaksanakan shalat, untuk menghormati orang-orang yahudi yang kiblat mereka adalah Masjidil Aqsha. Setelah beberapa lama bermasyarakat dengan orang-orang yahudi, ternyata banyak dari mereka yang selalu menjadi penghalang bagi dakwah Nabi dan selalu mengingkari perjanjian mereka dengan Nabi, bahkan merencanakan pembunuhan terhadap Nabi. Oleh karena itu nabi merasa tidak nyaman terhadap mereka, dan menginginkan agar kiblat shalat itu dipindahkan kemasjidil Haram sebagai tempat ibadah yang telah diwariskan oleh Nabi Ibrahim. Dan sepantasnyalah lebih baik menghadap ke masjidil Haram dari pada ke masjidil Aqsha. Ketika keinginan Nabi semakin kuat dan mencita-citakan agar diperintahkan oleh Allah untuk memindahkan kiblat itu, Nabi sering menengadahkan wajahnya ke langit mengharapkan turunnya ayat untuk memenuhi keinginan dan cita-citanya.
Dalam suatu hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dari Isma’il bin Abi Khalid dikemukakan bahwa ketika nabi sering menengadah ke langit itu, maka turunlah ayat untuk memerintahkan merobah arah kiblat ke masjidil Haram. Ayat tersebut terdapat dalam surat 2; al-Baqarah ayat 144:
Pertama karena keinginan dan cita-cita nabi.
Pada waktu pertama kali diperintahkan shalat, Nabi dan para sahabat menjadikan masjidil Aqsha sebagai kiblat dalam melaksanakan shalat, untuk menghormati orang-orang yahudi yang kiblat mereka adalah Masjidil Aqsha. Setelah beberapa lama bermasyarakat dengan orang-orang yahudi, ternyata banyak dari mereka yang selalu menjadi penghalang bagi dakwah Nabi dan selalu mengingkari perjanjian mereka dengan Nabi, bahkan merencanakan pembunuhan terhadap Nabi. Oleh karena itu nabi merasa tidak nyaman terhadap mereka, dan menginginkan agar kiblat shalat itu dipindahkan kemasjidil Haram sebagai tempat ibadah yang telah diwariskan oleh Nabi Ibrahim. Dan sepantasnyalah lebih baik menghadap ke masjidil Haram dari pada ke masjidil Aqsha. Ketika keinginan Nabi semakin kuat dan mencita-citakan agar diperintahkan oleh Allah untuk memindahkan kiblat itu, Nabi sering menengadahkan wajahnya ke langit mengharapkan turunnya ayat untuk memenuhi keinginan dan cita-citanya.
Dalam suatu hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dari Isma’il bin Abi Khalid dikemukakan bahwa ketika nabi sering menengadah ke langit itu, maka turunlah ayat untuk memerintahkan merobah arah kiblat ke masjidil Haram. Ayat tersebut terdapat dalam surat 2; al-Baqarah ayat 144:
قَدۡ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجۡهِكَ فِي ٱلسَّمَآءِۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبۡلَةٗ تَرۡضَىٰهَاۚ فَوَلِّ وَجۡهَكَ شَطۡرَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِۚ وَحَيۡثُ مَا كُنتُمۡ فَوَلُّواْ وُجُوهَكُمۡ شَطۡرَهُۥۗ وَإِنَّ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ لَيَعۡلَمُونَ أَنَّهُ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّهِمۡۗ وَمَا ٱللَّهُ بِغَٰفِلٍ عَمَّا يَعۡمَلُونَ
Artinya:”Sungguh Kami telah melihat mukamu sering menengadah ke langit, maka sungguh kami akan memalingkan kamu ke arah kiblat yang kamu sukai. Maka palingkanlah mukamu kea rah masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, maka palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya (Yahudi dan Nashrani yang diberi kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui bahwa berpaling ke masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya . Dan Allah sekali-kali tidak akan lengah dari apa yang mereka kerjakan”.
Kedua, karena keinginan dan cita-cita Sahabat.
Diriwayatkan oleh Bukhary dari Umar, bahwa Umar bin Khattab menerangkan bahwa ada tiga keinginannya yang distujui oleh Allah dengan turunnya ayat Al-Qur’an:
1. Ketika ia bersama Nabi melewati maqam Ibrahim, lalu ia mengusulkan kepada Nabi dengan mengatakan:”Wahai Rasulullah , tidakkah sebaiknya maqam Ibrahim ini kita jadikan sebagai tempat shalat?. Maka turunlah ayat yang memerintahkan untuk menjadikan maqam Ibrahim sebagai tempat shalat, ayat tersebut terdapat dalam Surat 2; al-Baqarah ayat 125:
Kedua, karena keinginan dan cita-cita Sahabat.
Diriwayatkan oleh Bukhary dari Umar, bahwa Umar bin Khattab menerangkan bahwa ada tiga keinginannya yang distujui oleh Allah dengan turunnya ayat Al-Qur’an:
1. Ketika ia bersama Nabi melewati maqam Ibrahim, lalu ia mengusulkan kepada Nabi dengan mengatakan:”Wahai Rasulullah , tidakkah sebaiknya maqam Ibrahim ini kita jadikan sebagai tempat shalat?. Maka turunlah ayat yang memerintahkan untuk menjadikan maqam Ibrahim sebagai tempat shalat, ayat tersebut terdapat dalam Surat 2; al-Baqarah ayat 125:
وَإِذۡ جَعَلۡنَا ٱلۡبَیۡتَ مَثَابَةࣰ لِّلنَّاسِ وَأَمۡنࣰا وَٱتَّخِذُوا۟ مِن مَّقَامِ إِبۡرَ ٰهِـۧمَ مُصَلࣰّىۖ وَعَهِدۡنَاۤ إِلَىٰۤ إِبۡرَ ٰهِـۧمَ وَإِسۡمَـٰعِیلَ أَن طَهِّرَا بَیۡتِیَ لِلطَّاۤىِٕفِینَ وَٱلۡعَـٰكِفِینَ وَٱلرُّكَّعِ ٱلسُّجُودِ
Artinya:”Dan ingatlah ketika ketika kami menjadikan rumah itu (Baitullah) sebagai tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim sebagai tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Isma’il:”Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, yang I’tiqaf, yang ruku’ dan yang sujud”.
2. Ketika Umar bin Khattab mengusulkan kepada Nabi untuk memelihara kehomatan dan keamanan isteri-isteri Beliau dengan mengatakan:” Telah berkunjung kepada isteri-isteri Tuan orang baik dan orang jahat. Bagaimana sekiranya Tuan memerintahkan supaya dipasang hijab (pembatas antara mereka dan isteri-isteri tuan). Maka turunlah ayat hijab, yaitu Surat 33; Al-Ahzaab ayat 53
2. Ketika Umar bin Khattab mengusulkan kepada Nabi untuk memelihara kehomatan dan keamanan isteri-isteri Beliau dengan mengatakan:” Telah berkunjung kepada isteri-isteri Tuan orang baik dan orang jahat. Bagaimana sekiranya Tuan memerintahkan supaya dipasang hijab (pembatas antara mereka dan isteri-isteri tuan). Maka turunlah ayat hijab, yaitu Surat 33; Al-Ahzaab ayat 53
یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ لَا تَدۡخُلُوا۟ بُیُوتَ ٱلنَّبِیِّ إِلَّاۤ أَن یُؤۡذَنَ لَكُمۡ إِلَىٰ طَعَامٍ غَیۡرَ نَـٰظِرِینَ إِنَىٰهُ وَلَـٰكِنۡ إِذَا دُعِیتُمۡ فَٱدۡخُلُوا۟ فَإِذَا طَعِمۡتُمۡ فَٱنتَشِرُوا۟ وَلَا مُسۡتَـٔۡنِسِینَ لِحَدِیثٍۚ إِنَّ ذَ ٰلِكُمۡ كَانَ یُؤۡذِی ٱلنَّبِیَّ فَیَسۡتَحۡیِۦ مِنكُمۡۖ وَٱللَّهُ لَا یَسۡتَحۡیِۦ مِنَ ٱلۡحَقِّۚ وَإِذَا سَأَلۡتُمُوهُنَّ مَتَـٰعࣰا فَسۡـَٔلُوهُنَّ مِن وَرَاۤءِ حِجَابࣲۚ ذَ ٰلِكُمۡ أَطۡهَرُ لِقُلُوبِكُمۡ وَقُلُوبِهِنَّۚ وَمَا كَانَ لَكُمۡ أَن تُؤۡذُوا۟ رَسُولَ ٱللَّهِ وَلَاۤ أَن تَنكِحُوۤا۟ أَزۡوَ ٰجَهُۥ مِنۢ بَعۡدِهِۦۤ أَبَدًاۚ إِنَّ ذَ ٰلِكُمۡ كَانَ عِندَ ٱللَّهِ عَظِیمًا
Artinya:”Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya), tetapi jika kamu diundang, maka masuklah, dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang dsemikian itu akan mengganggu Nabi, lalu Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu keluar) dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar. Dan apabila kamu meminta sesuatu keperluan kepada isteri-isteri Nabi, maka mintalah dari balik tabir, cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan kamu tidak boleh menyakiti hati Rasulullah dan tidak boleh pula mengawini isteri-isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu amat besar dosanya di sisi Allah.
3. Ketika Rasulullah menjauhi isteri-isterinya, yang saling cemburu, maka Umar bin Khattab berkata kepada mereka:” Mudah-mudahan Rabbnya akan menceraikan kamu, dan mengganti kamu dengan isteri-isteri lain yang lebih baik dari pada kamu. Maka turunlah Surat 66; at-Tahriim ayat 5:
3. Ketika Rasulullah menjauhi isteri-isterinya, yang saling cemburu, maka Umar bin Khattab berkata kepada mereka:” Mudah-mudahan Rabbnya akan menceraikan kamu, dan mengganti kamu dengan isteri-isteri lain yang lebih baik dari pada kamu. Maka turunlah Surat 66; at-Tahriim ayat 5:
عَسَىٰ رَبُّهُۥۤ إِن طَلَّقَكُنَّ أَن یُبۡدِلَهُۥۤ أَزۡوَ ٰجًا خَیۡرࣰا مِّنكُنَّ مُسۡلِمَـٰتࣲ مُّؤۡمِنَـٰتࣲ قَـٰنِتَـٰتࣲ تَـٰۤىِٕبَـٰتٍ عَـٰبِدَ ٰتࣲ سَـٰۤىِٕحَـٰتࣲ ثَیِّبَـٰتࣲ وَأَبۡكَارࣰا
Artinya :” JIka dia akhirnya menceraikan kamu, maka bias saja Rabbnya akan member ganti kepadanya dengan isteri-isteri yang lebih baik dari pada kamu, Yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertobat, yang mengerjakan ibadah, yang rajin puasa, yang janda dan yang perawan”.
Disini kita bisa mengambil pelajaran betapa jiwa Nabi yang mulia ketika ia menginginkan sesuatu langsung direspon dengan turunnya ayat Al-Qur’an. Dan betapa sucinya hati Umar yang awal mula masuk Islamnya karena sentuhan ayat Al-Qur’an, yang selalu memegang teguh kebenaran Al-Quran, yang jiwanya selalu tunduk kepada bimbingan Al-Qur’an, sehingga kecintaannya kepada Al-Qur’an membuat beberapa ayat al-Qur’an itu turun untuk menyetujui keinginan dan cita-citanya yang luhur untuk menjaga kehormatan nabi dan isteri-isteri nabi, untuk mengawal kemuliaan Islam, dan ketika dia diamanahi menjadi khalifah sesudah Abu Bakar Islam berkambang sangat luas bahkan mampu menaklukkan dua imperium besar yaitu Romawi dan Persia yang sebelumnya menjadi momok yang menakutkan bagi bangsa-bangsa Arab.
Merupakan pelajaran yang sangat berharga bagi kita, untuk cemburu kepada kecintaan mereka kepada Al-Qur’an yang telah merobah perilaku buruk mereka, dari ummat yang terkenal jahil dan rusak parah kehidupan nya yang selalu bergelimang dan sangat hobbi melakukan dosa dan maksiat, menjadi ummat teladan yang karya-karya baiknya terbaik sepanjang jaman. Semoga hati kita bisa kita hadapkan menjadi hati yang semakin mencintai Al-Qur’an karena tidak ada obat ajaib yang mampu menandingi keampuhan Al-Qur’an un tuk menyehatkan jiwa dan menjernihkan akal. Dengan jiwa yang sehat dan akal yang jernih Allah menjadi begitu dekat, dan dengan mudah memenuhi keinginan dan cita-cita kita.
Disini kita bisa mengambil pelajaran betapa jiwa Nabi yang mulia ketika ia menginginkan sesuatu langsung direspon dengan turunnya ayat Al-Qur’an. Dan betapa sucinya hati Umar yang awal mula masuk Islamnya karena sentuhan ayat Al-Qur’an, yang selalu memegang teguh kebenaran Al-Quran, yang jiwanya selalu tunduk kepada bimbingan Al-Qur’an, sehingga kecintaannya kepada Al-Qur’an membuat beberapa ayat al-Qur’an itu turun untuk menyetujui keinginan dan cita-citanya yang luhur untuk menjaga kehormatan nabi dan isteri-isteri nabi, untuk mengawal kemuliaan Islam, dan ketika dia diamanahi menjadi khalifah sesudah Abu Bakar Islam berkambang sangat luas bahkan mampu menaklukkan dua imperium besar yaitu Romawi dan Persia yang sebelumnya menjadi momok yang menakutkan bagi bangsa-bangsa Arab.
Merupakan pelajaran yang sangat berharga bagi kita, untuk cemburu kepada kecintaan mereka kepada Al-Qur’an yang telah merobah perilaku buruk mereka, dari ummat yang terkenal jahil dan rusak parah kehidupan nya yang selalu bergelimang dan sangat hobbi melakukan dosa dan maksiat, menjadi ummat teladan yang karya-karya baiknya terbaik sepanjang jaman. Semoga hati kita bisa kita hadapkan menjadi hati yang semakin mencintai Al-Qur’an karena tidak ada obat ajaib yang mampu menandingi keampuhan Al-Qur’an un tuk menyehatkan jiwa dan menjernihkan akal. Dengan jiwa yang sehat dan akal yang jernih Allah menjadi begitu dekat, dan dengan mudah memenuhi keinginan dan cita-cita kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar